(Generasi Sandwich Bagian 1)
Oleh : Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Saat ini Indonesia tengah menghadapi bonus demografi. Demographic dividend atau Bonus Demografi adalah suatu kondisi dimana populasi masyarakat akan didominasi oleh individu-individu dengan usia produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah rentang usia 15 hingga 64 tahun. Titik ini menjadi peluang besar bagi sebuah negara untuk meningkatkan performa ekonomi industri. Namun, ditengah kesibukan menghadapi bonus demografi, muncul kembali istilah generasi sandwich yang dapat menjadi ancaman Indonesia untuk dapat memaksimalkan keuntungan dari bonus demografi tersebut. Apa itu generasi sandwich? Permasalahan apa yang terjadi dengan generasi sandwich? Bagaimana tata ruang dapat menjadi salah satu kunci dalam menghadapi generasi sandwich? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi pembahasan dalam artikel ini.
Generasi Sandwich & Permasalahannya
Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller dalam jurnalnya yang berjudul The ‘Sandwich’ Generation: Adult of the Aging pada tahun 1981. Menurutnya, Sandwich Generation/ Generasi Sandwich merupakan generasi orang dewasa yang memiliki peran ganda di mana mereka bertanggung jawab terhadap beban hidup generasi atas dan generasi di bawahnya. Mereka tidak hanya menanggung beban hidup anak-anaknya, tetapi juga orang tua dan/atau mertuanya (Alavi, K., dkk., 2015). Kondisi tersebut diibaratkan sebagai sandwich (roti lapis) yang biasanya berisikan daging, sayuran, keju, lalu diapit oleh roti di sisi atas dan bawahnya.
Dalam hal ini, faktor yang melatarbelakangi munculnya generasi sandwich adalah keterlambatan perencanaan finansial seorang individu secara pribadi maupun keterlambatan dalam merencanakan dana pensiun mereka. Adapun contoh dalam kasus ini, seperti orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya, akan berpotensi besar untuk membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya. Selanjutnya, sang anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai orang tua yang tidak mandiri di masa tuanya, dan pada akhirnya akan berlanjut seperti itu seterusnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, generasi sandwich berpotensi menurunkan investasi manusia di tingkat rumah tangga, termasuk pemenuhan pembiayaan pendidikan, kesehatan, gizi, dan jaminan hari tua. Hal ini akan berdampak jangka panjang pada pembangunan manusia dan ekonomi Indonesia.
Berdasarkan pengolahan data Susenas Maret 2022, (Sonny Harry B Parmadi dalam Harian Kompas (14/10/2022)), diperkirakan terdapat 8,4 juta penduduk Indonesia yang tergolong generasi sandwich dalam extended family. Terbanyak di Jawa Timur (23,71 %), disusul Jawa Tengah (19,14 %), Jawa Barat (12,10 %), Bali (3,99 %), Sumatera Utara (3,77 %). Dari hasil data tersebut terdapat 61% berada di Pulau Jawa. Selanjutnya data berdasarkan tempat tinggal menunjukkan bahwa 51 % di wilayah perkotaan dan sisanya berada di kawasan perdesaan. Hampir 17 % tergolong miskin sehingga beban ganda yang mereka tanggung sangat besar. Selain itu 58 % dari generasi sandwich adalah berpendidikan SMP ke bawah.
Dari semua permasalahan yang dialami oleh generasi sandwich. Berikut merupakan beberapa dampak yang dialami oleh generasi sandwich:
- Rendahnya kemampuan untuk menabung, dengan beban berat yang ditanggung oleh generasi sandwich. Mereka cenderung sulit untuk menyimpan uang dari penghasilannya karena harus membagi beban dengan keluarganya yang lain;
- Kurangnya alokasi waktu, Generasi sandwich harus membagi waktunya yang terbatas untuk beragam aktivitas, mulai dari bekerja hingga mengurus anak dan orang tua. Hal ini akan berdampak terhdap produktivitas dan pengembangan diri;
- Terhambatnya kemampuan pembiayaan pendidikan, kesehatan dan gizi yang terbatas;
- Dapat memberi tekanan psikologis dan mempengaruhi kesehatan jiwa.
Tipe-Tipe Generasi Sandwich
Carol Abaya, seorang Aging and Elder Care Expert (dalam Hoyt, J., 2021) mengklasifikasikan sandwich generation menjadi sebagai berikut.
- The Traditional Sandwich Generation — orang dewasa berusia 40-50 tahun yang dihimpit oleh orang tua yang sudah lanjut usia dan anak-anak yang sudah memasuki usia produktif tetapi belum mandiri secara finansial.
- The Club Sandwich Generation — Orang dewasa akhir berusia 60 tahunan yang dihimpit oleh orang tua yang semakin tua dan anak yang sudah dewasa atau bahkan cucunya. Tipe ini juga berlaku pada kelompok usia dewasa awal berusia 30-40 tahun yang bertanggung jawab atas anak, orang tua dan/atau kakek neneknya.
- The Open-Faced Sandwich Generation — Siapapun (non-profesional) yang terlibat aktif dalam perawatan lansia.
Selain itu, generasi sandwich juga dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu:
- Generasi sandwich yang tinggal/ berada dalam satu rumah tangga dengan mereka yang ditanggung
- Generasi sandwich yang tidak tinggal/ berada dalam satu rumah tangga dengan mereka yang ditanggung
Pengaruh Generasi Sandwich Terhadap Perencanaan Tata Ruang
Dengan beragam potensi masalah yang terjadi oleh generasi sandwich, apalagi jika masalah tersebut semakin besar, maka apa yang terjadi pada generasi sandwich bisa menjadi ancaman untuk kemajuan kota. Ada beberapa alasan yang mendukung hipotesis ini Menurut Hermansyah, Tantan. (2021).
- Pertama, masa depan kota tidak bisa disandarkan pada entitas yang setiap hari mengalami tekanan dan akhirnya menyebabkan mereka stres. Kota yang dihuni oleh orang-orang yang kurang bahagia atau bahkan orang yang stres itu, akan cenderung mengalami stagnasi atau kejumudan, bahkan declining atau penurunan kualitas;
- Kedua, kota sebagai sebuah ruang dan juga entitas nilai-nilai kemanusiaan perlu ditopang oleh energi muda yang bebas dari stres dan beragam kesulitan sehari-hari;
- Ketiga, kota sebagai suatu ruang kreatif dan dinamis selalu diarahkan untuk perubahan yang agresif dan positif, karena dalam ruang tersebut manusia-manusia hidup dan mengembangkan peradaban.
Sementara generasi sandwich telah kehilangan atau cenderung untuk tidak lagi memperhatikan lingkungan tempat mereka hidup dan tumbuh itu. Mereka telah menjadi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx (1818-1883), sebagai kelompok masyarakat yang terasing atau terlienasi oleh dunia kerja yang tadinya mereka harapkan sendiri. Menurut Budihardjo (2000), penyusunan rencana tata ruang harus dilandasi pemikiran perspektif menuju keadaan pada masa depan yang didambakan, bertitik tolak dari data, informasi, ilmu pengetahuan dan teknlogi yang dapat dipakai, serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. Dalam proses perencanaan tata ruang beberapa hal harus menjadi masukan dalam proses penyusunannya. Salah satunya adalah bagaimana kota/ wilayah dapat mengakomodasi generasi sandwich untuk “lebih berasa hidup” dan menjadi lebih produktif. Berikut beberapa hal pengaruh generasi sandwich dalam perencanaan tata ruang:
- Kepadatan penduduk, dalam hal ini generasi sandwich akan terus berusaha memenuhi kehidupan mereka dan keluarga sehingga banyak kegiatan urbanisasi yang terjadi akibat banyaknya orang yang mencari pekerjaan di perkotaan;
- Peningkatan backlog perumahan/ permukiman, dengan adanya peningkatan jumlah penduduk di wilayah perkotaan menyebabkan kebutuhan akan rumah akan meningkat. Hal ini menyebabkan backlog perumahan akan bertambah karena generasi sandwich yang belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Disisi lain generasi sandwich yang tidak dapat membeli rumah karena mereka menghemat biaya hidup dan menanggung kebutuhan keluarganya akan menyebabkan oversupply perumahan. Over supply pasar perumahan tersebut disebabkan jumlah rumah yang dibangun akan lebih banyak dibandingkan tingkat daya beli generasi sandwich;
- Dengan banyaknya pekerjaan yang terdistrupsi di era 4.0, Generasi sandwich akan memilih untuk menemukan pekerjaan online dimana mereka dapat mengurangi biaya pengeluaran sehari-hari sekaligus mengurus keluarganya (adik atau orang tua yang sudah lansia). Dengan pemikiran tersebut, maka akan menyebabkan berkurangnya belanja transportasi;
- Peningkatan volume sampah, dengan adanya peningkatan jumlah penduduk, maka volume sampah yang dihasilkan juga akan meningkat. Untuk menghindari bencana alam, kota/ wilayah harus mampu merencanakan sarana dan prasarana persampahan dengan baik;
- Pemenuhan ruang terbuka hijau dan publik, dengan waktu luang yang sedikit, para generasi sandwich sangat membutuhkan ruang terbuka hijau dan publik yang berada disekitar tempat tinggalnya. Ruang terbuka hijau dan publik sangat berepengaruh kepada tingkat kejenuhan para generasi sandwich.
- Kebutuhan lahan akan meningkat. Dengan banyaknya peningkatan jumlah penduduk maka akan bertambahnya kebutuhan rumah/ tempat tinggal. Munculnya konsep mixed-use dengan bangunan bertingkat akan menjadi pilihan untuk mengurangi permasalahan kebutuhan lahan.
- Terakhir, kebutuhan akan sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan yang memadai. Pada dasarnya untuk meningkatkan kualitas mereka, banyak dari generasi sandwich yang melakukan pekerjaan sambil berkuliah. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan diperlukan sarana dan prasarana yang baik di kota/wilayah tersebut.
Tata Ruang Yang Dapat Mengakomodasi Kehidupan Generasi Sandwich
Kota/ wilayah merupakan tempat beraktivitas dan bersosialisasi masyarakatnya. Kota/ wilayah harus mampu mewadahi masyarakatnya untuk melakukan segala aktivitasnya, memenuhi kebutuhan fisik dan batin. Untuk mewujudkan itu semua perencanaan tata ruang menjadi suatu hal penting dalam merencanakan lahan dan pemenuhan sarana serta prasarana. Fenomena generasi sandwich merupakan salah satu fenomena yang dialami saat ini di Indonesia, dan juga akan berdampak pada jangka panjang apabila tidak dapat ditangani dengan baik. Dengan perencanaan tata ruang yang baik, generasi sandwich akan dapat lebih meningkatkan produktivitasnya dan merasa hidup serta mengurangi beban mereka. Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan dalam perencanaa tata ruang untuk dapat mengakomodasi kehidupan generasi sandwich:
- Kota/ wilayah sebagai tempat yang nyaman, memberikan suasana “hidup” yang sesungguhnya. Dalam arti yaitu kota/ wilayah harus dapat mengakomodasi perannya sebagai lingkungan dimana masyarakat bertempat tinggal, melakukan pekerjaan, dan melakukan sosialisasi. Hal ini dapat diwujudkan dengan pembangunan ruang tempat bersosialisasi untuk generasi sandwich menikmati waktu luangnya seperti: ruang terbuka hijau untuk aktivitas bersantai, dan berolahraga, dan tempat hiburan lainnya.
- Kota/ wilayah yang saling terintegrasi. Dalam hal ini, faktor penting generasi sandwich untuk dapat memiki alokasi waktu lebih yaitu kemudahan akses menuju tempat kerja. Kota/ wilayah harus mampu memenuhi hal tersebut dengan penyediaan akses transportasi yang saling terintegrasi atau TOD (Transit Oriented Development) dan juga peningkatan kualitas prasarana jalan yang baik. Pembangunan berorientasi Transit Oriented Development (TOD) merupakan sebuah pola pembangunan tata kota yang terintegrasi dengan sistem transportasi sehingga menciptakan sebuah kota yang efisien. Dengan kemudahan tersebut, akan mempengaruhi tingkat stress mereka dan memberikan lebih banyak waktu luang untuk mereka diluar dari jam kerjanya.
- Kota/ wilayah dengan pengaturan lahan yang tepat. Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka harus dipertimbangkan kembali terkait pengaturan penggunaan lahan. Konsep mixed-used akan menjadi pilihan tepat untuk mengatasi hal tersebut. Konsep ini juga akan berhasil apabila ditempatkan di dekat kawasan TOD.
- Kota/ wilayah harus dapat memenuhi backlog akan perumahan. Dengan beban yang ditanggungnya, peran generasi sandwich didalam keluarga sangat penting. Salah satu hal mendasar yang harus dimiliki mereka adalah rumah sebagai investasi masa depan. Untuk itu perencanaan tata ruang harus mempersiapkan baik lahan maupun pembiayaan perumahan yang tepat agar generasi sandwich dapat memiliki rumah sendiri. Hal ini untuk menghindari adanya permukiman kumuh. Pembiayaan perumahan juga harus diperhatikan dikarenakan ketidakmampuan mereka untuk membeli rumah. Dengan konsep pembiayaan yang tepat, maka mereka dapat membeli rumah dengan angsuran untuk menghindari oversupply perumahan.
- Selain 4 hal tersebut, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana kesehatan, pendidikan dan balai pelatihan kerja yang memadai sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, kebutuhan akan peningkatan SDM dan tingkat kesehatan generasi sandwich sangatlah penting.
Penutup
Tata ruang menjadi salah satu kunci solusi dalam menghadapi fenomena generasi sandwich. Dengan perencanaan tata ruang yang baik, generasi sandwich dapat merasa lebih nyaman dan aman serta dapat mengalokasikan waktunya lebih baik. Diharapkan seluruh kota dan wilayah di Indonesia dalam merencanakan/ melakukan evaluasi tata ruang sudah memasukkan isu generasi sandwich. Hal ini dikarenakan untuk memutuskan rantai generasi sandwich dan memberikan kesan “hidup” yang lebih baik kepada generasi sandwich.
REFERENSI:
- Parmadi, Sonny Harry B. (2022). Antisipasi “Ledakan” Generasi “Sandwich” Pascabonus Demografi dalam Harian Koran Kompas.
- Aififah, Siti Hasna. (2022). Mengenal Sandwich Generation, Sosok Tangguh Yang Terhimpit Beban Keluarga dalam https://psikologi.unnes.ac.id/mengenal-sandwich-generation-sosok-tangguh-yang-terhimpit-beban-keluarga/ Diakses pada 18 Oktober 2022.
- Jurnal Post. (2021). Beban Ganda Generasi Sandwich dan Solusi menghadapinya dalam https://jurnalpost.com/beban-ganda-generasi-sandwich-dan-solusi-menghadapinya/28712/ Diakses pada 18 Oktober 2022.
- Hermansyah, Tantan. (2021). Generasi Sanwdwich Kota dalam https://www.uinjkt.ac.id/generasi-sandwich-kota/ Diakses pada 18 Oktober 2022.
- Perkim.id. (2021). Penerapan Konsep Transit Oriented Development (TOD) pada Penataan Kota dalam https://perkim.id/transportasi/penerapan-konsep-transit-oriented-development-tod-pada-penataan-kota/ Diakses pada 18 Oktober 2022.
- Wajib, Nurwino. (2016). Memahami Pentingnya Tata Ruang Kota dalam https://kotaku.pu.go.id/view/3876/memahami-pentingnya-tata-ruang-kota Diakses pada 18 Oktober 2022.
- Apa Itu Bonus Demografi dan Bagaimana Dampaknya Dalam https://bakai.uma.ac.id/2022/07/02/apa-itu-bonus-demografi-dan-bagaimana-dampaknya/ Diakses pada 18 Oktober 2022