Oleh: Arszandi Pratama, S.T, M.Sc., Warid Zul Ilmi, S.P.W.K., Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Kawasan Metropolitan Jabodetabek telah memasuki Post Suburbanisasi dengan penduduk eksisting mencapai kurang lebih 32 Juta Jiwa yang telah berdampak kepada berbagai persoalan yang tak kunjung usai. Mulai dari penurunan kualitas udara, ketersediaan air bersih yang kurang, banjir dan krisis iklim, sulitnya mengakses hunian yang layak dan terjangkau, hingga pengolahan sampah yang masih berantakan. Masalah tersebut terjadi terutama di Ibukota Jakarta. Hal ini dikarenakan adanya transformasi yang begitu cepat di area perkotaan, era postmodern yang berdampak pada hampir seluruh sektor kehidupan kita yang terjadi secara eksponensial. Hal tersebut juga membawa perubahan pada wajah perkotaan yang begitu pesat dengan proses spasial dan mengakibatkan perubahan menyeluruh pada struktur dan pola ruang perkotaan. Pada perkotaan modern banyak wilayah yang bertumbuh dan berubah bergerak ke arah luar, dari pusat kota ke kawasan sekitarnya. Namun pada era postmodern fenomena tersebut dapat berbalik dengan semakin pesatnya perkembangan pusat-pusat kota baru di kawasan pinggiran metropolitan, hal ini disebut sebagai post suburbanisasi. Post suburbanisasi adalah pusat kota-kota baru di kawasan sub urban yang memiliki ciri khas yang berbeda-beda namun tidak meninggalkan kesan berantakan atau organik, melainkan kawasan perkotaan yang direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dikarenakan kota pusatnya sudah mengalami kejenuhan. Sementara itu, struktur spasial baru yang dihasilkan disebut sebagai post-suburbia (Helbich, 2012). Berikut adalah beberapa perkembangkan kota-kota di dunia :
sumber : Materi Webinar Karen, 2023.
Perbedaan Suburbanisasi dan Post Suburbanisasi
| No | Karakteristik | Suburbanisasi | Post Suburbanisasi |
| 1 | Dorongan | Pertumbuhan demografi, urban sprawl. | Meningkatnya imigrasi, Mobilitas individual |
| 2 | Kondisi | Permintaan perumahan & pembangunan industri tinggi, tingkat harga rendah, dapat diakses oleh transportasi publik | Transformasi, globalisasi, perubahan sosial, keberagaman gaya hidup, segregasi, polarisasi, fleksibilitas mobitas pasca fordism, motorisasi |
| 3 | Gambaran | Bebas polusi, lebih alami | Gaya hidup posmodern, orientasi kesenangan |
| 4 | Infrastruktur | Hanya terdapat infrastruktur dasar, kesempatan kerja rendah | Infrastruktur khusus, kesempatan kerja, perdagangan |
| 5 | Bentuk & Struktur | Arsitektur homogen, kawasan hijau besar | Arsitektur dan kawasan hijau yang beragam namun meniru tempat lain |
| 6 | Aktor | Kelas bawah dan menengah, keluarga muda | Semua kelas, investor, pebisnis, pengembang, olahragawan |
| 7 | Hasil | Gedung beton, kota dormitori, jendela hijau, dan monoton | Fragmentasi sosial ekonomi dan spasial, multifungsi, transformasi ruang pertanian, menurunnya pemusatan lokasi |
| 8 | Fungsi | Menunjang pusat kota | Kawasan independen, bukan perkotaan maupun perdesaan |
Dalam konteks perkembangan permukiman Phelps dan Wu (2011) membagi transformasi perkotaan kedalam tiga tahapan. Tahap pertama dikenal sebagai kota modern, yaitu dimana kota bertransformasi menjadi suburban. Pada tahap kedua, kota bertransformasi menjadi suburban kemudian berubah menjadi postsuburban. Tahap ini dikenal sebagai region kota modern terbaru. Pada Jenis ketiga yang dikenal sebagai region kota yang mengalami modernitas kedua, terdapat lima kemungkinan bentuk transformasi yang berbeda yaitu:
- Dari post-suburban berkembang kota;
- Suburban yang berkembang, tumbuh menjadi post-suburban kemudian menjadi kota;
- Suburban yang makmur dan stabil bertahan sebagai suburban yang makmur dan stabil;
- Suburban mengecil menjadi sub suburban;
- Kota menjadi suburban.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa proses post-suburbanisasi selalu dimulai dari adanya suburbanisasi dan akan memiliki perkembangan yang berbeda antar lokasi.
Perbedaan-perbedaan yang tercipta mendorong adanya perubahan dalam masyarakat mulai dari ekonomi, politik, lingkungan dan budaya telah menghasilkan suatu struktur yang baru di mana suburbanisasi menjadi pusat kota yang memiliki nilai yang lebih penting dalam ruang perkotaan. Pada masa yang akan datang di mana urbanisasi terus berkembang di kawasan pinggiran metropolitan, maka keberadaan post suburbanisasi ini akan menjadi strategis, dan Indonesia adalah negara yang tidak terhindarkan dari fenomena ini. Fenomena Post Suburbanisasi ini mudah digambarkan dengan adanya perbedaan antar pusat kegiatan yang dapat dibandingkan bentuknya seperti kawasan pusat perdagangan dan jasa atau kompleks pengembangan industri seperti yang ada di Cikarang dan Kendal serta pengembangan permukiman yang dikhususkan seperti kompleks besar BSD City dalam menampung pekerja ibu kota maupun di area sekitar ibu kota.
BSD City menjadi studi kasus yang mudah kita pahami dalam melihat fenomena Post Suburbanisasi, bahwa ada faktor pendorong dari munculnya fenomena ini adalah adanya kebijakan perencanaan spasial pemerintah yang mendorong inisiatif pengembangan dan tinggal di pinggiran kota dengan kemudahan perizinan, dan strategi pengembangan ekonomi yang lebih progresif. Lalu adanya fenomena globalisasi memperlihatkan kota BSD semakin terhubung dengan negara asing dan perkembangannya memunculkan karakter kosmopolitan, globalisasi, dan karakter masyarakat post-modern yang konsumerisme melalui adanya investor asing yang terus meningkat, perkembangakn kota BSD dengan fragment kebudayaan negara asing seperti arsitektur dan kawasan hijau nya, dan keberadaan masyarakat yang lebih konsumtif. Berikut perubahan yang terjadi pada kawasan perkotaan BSD
Melalui Post-suburban lebih menunjukkan adanya kekhasan dalam mewujudkan dan memberikan kesan mudah bagi para masyarakatnya untuk mengenal sebagai suatu pusat kota. Masing-masing pusat tersebut memiliki kekhasan yang dapat menyediakan beragam daya tarik tersendiri tentunya. Keterpisahan antara pusat satu dan lainnya tersebut ditunjukkan dengan adanya spesialisasi fungsi kegiatan dan berlokasi dalam waktu tempuh yang tidak cukup lama untuk satu kali perjalanan antara satu lokasi ke lokasi lainnya dengan menggunakan kendaraan bermotor. Frekuensi penggunaan kendaraan bermotor atau bahkan yang telah terkoneksi dengan tranportasi publik masal seperti MRT dan LRT atau KRL untuk berkomuting, bersosialisasi, bekerja, dan berbelanja dengan lokasi yang melintasi batas kota, dan cenderung seimbang dengan perjalanan di dalam kota. Bentuk perkotaan dan proses yang ada dan dapat dilakukan improvisasi seperti apa yang diungkapkan oleh Keseru (2013) yang juga dapat dijadikan sebagai indikator pembangunan postsuburban sebagai berikut:
- Suburbanisasi/desentralisasi pekerjaan
- Pendekatan polisentris
- Pusat suburban baru yang memiliki penggunaan campuran (edge cities)
- Kota bandar udara
- Struktur ekonomi Post-Fordist di kawasan suburban (jasa, industri berteknologi tinggi, serta pusat penelitian dan pengembangan)
- Berkembangnya pusat hiburan suburban serta fasilitas akomodasi
- Arsitektur posmodern
- Gated Communities
Namun pertanyaannya adalah, apakah ini menjadi peluang atau ancaman adalah bagaimana kita menyikapi dampak yang berkembang adapun peluang besar yang tidak boleh terlewatkan adalah adanya perkembangan lapangan kerja dan kegiatan ekonomi yang memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dan masuknya investasi asing untuk perkembangan kotanya. Namun ancaman yang perlu kita mitigasi adalah kinerja kota yang sulit diukur karena kawasan tersebut tidak sesuai dengan batas administrasi, adanya keinginan untuk memuaskan konsumen sehingga sumber daya bisa tereksploitasi sehingga unsur perkembangan kota yang berkelanjutan tidak terakomodasi dengan baik, wajah kota cenderung terkesan eksklusif dan perkembangan kawasan yang kompetitif dikhawatirkan akan saling menjatuhkan atau menghambat proses perkembangan kotanya.
Melalui post suburban, ada harapan dalam perubahan paradigma pembangunan yang mendasar pada pengembangan kota untuk perlindungan lingkungan melalui pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial yang semakin baik. Pendanaan yang pasti dan perubahan pusat kota yang tidak berkonsentrasi pada satu melainkan banyak pusat baru dengan karakter sosial dan ekonominya yang kuat serta memberikan wajah kota yang menarik untuk disinggahi sehingga memecah kepadatan sesuai dengan kegiatannya masing-masing. Melalui revitalisasi bangunan dan mengembalikan kembali struktur kota pinggiran yang tidak seimbang, melalui pendekatan keberlanjutan lingkungan dalam melahirkan rasa aman dan nyaman untuk bertempat tinggal dan melakukan berbagai aktivitas keseharian di dalamnya.
Referensi :
- Eko Heripoerwanto. 2023. The Greater Jakarta Memasuki Post Suburbanization: Peluang atau Ancaman. Materi Webinar Universitas Tarumanagara. Kementerian PUPR. Daring.
- Karen. 2023. Kajian Post-Suburbanisasi di Jabodetabek Barat dengan Fokus di Kota Baru Bumi Serpong Damai. Materi Webinar Universitas Tarumanegara. Universitas Tarumanagara. Daring.
- Erie Sadewo, Ibnu Syabri dan Pradono. 2018.Post-Suburbia dan Tantangan Pembangunan Di Kawasan Pinggiran Metropolitan: Suatu Tinjauan Literatur. Majalah Geografi Indonesia Vol. 32, No.2, September 2018 (130-141). Yogyakarta.