Oleh: Arszandi Pratama, S.T, M.Sc., Warid Zul Ilmi, S.P.W.K., Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Kota bahagia adalah konsep kota yang dapat memenuhi kebutuhan inti masyarakatnya (Hannah Wright from Happy City). Kebahagiaan berarti sesuatu yang berbeda bagi setiap individu, jadi sebelum menyelami intervensi kota apa yang dapat membuat kota bahagia, pertama-tama kita melihat kondisi penting masyarakat untuk dapat dikatakan sejahtera. Hal Ini berarti bagaimana orang menilai keadaan kebahagiaan mereka sendiri (kesejahteraan subjektif), sejauh mana orang menjalani hidup dengan sepenuh hati, berupaya memberikan kesejahteraan psikologis dan fisik bagi dirinya. Kota bahagia juga akan mirip dengan kota hijau, kota pintar, dan konsep kota lainnya yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi warga kotanya..
Konsep kota bahagia menjadi sebuah konsep yang menarik perhatian orang di seluruh dunia. Kota bahagia adalah konsep kota di mana penduduknya dapat mengalami kegembiraan, kesejahteraan, dan rasa kebahagiaan secara keseluruhan. Happy city memiliki banyak aspek penting, diantaranya adalah sebagai berikut :
- Sistem transportasi umum: Kota bahagia adalah kota yang memiliki sistem transportasi umum yang efektif. Sistem transportasiyang rendah karbon memastikan lebih sedikit polusi dan menawarkan kehidupan yang sehat
- Infrastruktur: Infrastruktur yang efektif adalah kunci kota yang bahagia. Infrastruktur mengacu pada kombinasi bangunan publik, fasilitas, dan tempat penghubung, di mana orang dapat terlibat dalam beberapa kegiatan yang merangsang secara intelektual. Seperti sistem pembuangan limbah, sistem daur ulang air, sistem kebersihan secara keseluruhan, infrastruktur TIK, bangunan institusi, wifi-hotspot, sistem yang sangat baik untuk manajemen bencana dan penyediaan stadion dan tempat umum lainnya yang cukup untuk kesejahteraan publik secara keseluruhan.
Swiss Railways

Sumber: https://rail.nridigital.com/future_rail_aug19/big_moves_swiss_railways_infrastructure_upgrades
- Ikatan emosional: Kota-kota bahagia dikarenakan adanya ikatan emosional positif yang diciptakan oleh perasaan bahagia dan hubungan emosional secara keseluruhan di antara orang-orang. Keterikatan emosional dapat terbentuk melalui praktik budaya dan praktik kota lainnya. Praktik budaya mengacu pada berbagai praktik dan ritual yang mengikat kota bersama. Orang-orang di India misalnya merayakan Holi dan Diwali berkelompok sehingga menciptakan ikatan. Festival Holi dan Diwali menciptakan ikatan yang diperlukan untuk menghubungkan orang dengan kotanya.
- Keamanan dan rasa aman: Secara keseluruhan keselamatan dan keamanan orang yang tinggal di kota itu merupakan inti dari kebahagiaan. Harus ada rasa aman yang kuat dan rasa aman secara keseluruhan sehingga orang dapat menikmati hidup mereka.
- Kondisi perempuan:Menjamin seorang wanita mendapatkan rasa aman, seperti keluar sendirian di jalanan pada tengah malam, Jika kota itu dinobatkan sebagai kota bahagia.
- Jalur aman untuk pejalan kaki : Kota yang bahagia adalah kota yang tidak hanya menyediakan transportasi yang baik, tetapi juga menyediakan jalur pejalan kaki yang baik, sehingga seeorang dapat santai berjalan melewati kota dan menikmati perjalanan nya
- Praktik ramah lingkungan: Tingkat penghijauan, sistem daur ulang air, penyediaan sumber energi alternatif/terbarukan. Merupakan kota yang ramah lingkungan secara keseluruhan. Jika sebuah kota hijau, itu akan berkontribusi menuju kota yang bahagia. Montgomery (2013) berpendapat bahwa happy city sama dengan green city atau low-carbon city. Jadi harus ada investasi yang cukup untuk mewujudkan infrastruktur hijau.
- Taman dan perpustakaan umum: Kota menjadi tempat tinggal yang indah ketika mereka juga memiliki taman dan perpustakaan umum yang cukup untuk penduduknya.
- Teater dan pusat hiburan: Orang membutuhkan pusat rekreasi untuk hiburan mereka. Kota yang bahagia akan memiliki cukup banyak pusat hiburan, teater, taman hiburan, restoran, dll.
- Kolaborasi Kebudayaan: Hal terpenting yang menciptakan kota bahagia adalah adanya keseluruhan budaya yang saling berkolaborasi dan berbagi sesama penduduk kota nya.
Kesepuluh aspek tersebut dimaksudkan untuk bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam menata kota-kota dunia agar tercipta kota yang lebih ramah dan nyaman untuk ditempati oleh warga kota nya. Diperlukannya berbagai pendekatan dalam memenuhi aspek-aspek yang telah dijabarkan di atas, untuk memberikan fasilitas, pelayanan, sistem, tata kelola dan infrastruktur yang dibangun sesuai dengan kebutuhan warga kota nya, sehingga ada keterhubungan secara emosional dari apa yang disediakan dan dibutuhkan.
Oleh karena itu, penting sekali dilakukan pengukuran yang objektif untuk menilai bahwa aspek yang diperlukan sudah dalam kategori yang baik. Sehingga ada beberapa variabel yang menjadi tolak ukur dalam menilai kota-kota di dunia dengan berbagai sumber dan pendekatan, di antaranya adalah mengukur Tingkat Pendapatan Perkapita, Tingkat Harapan Hidup, Nilai Sosial seperti Intensitas warga kota dalam memberikan bantuan, baik berupa moril dan materi, serta Kebebasan dalam memilih, dan berpresepsi terhadap korupsi. Kelima variabel tersebut disederhanakan menjadi beberapa pertanyaan / indikator yang dapat dinilai oleh warga kotanya disetiap negara untuk mengetahui tingkat kebahagiaan. Melalui pengukuran dan pengujian kelima variabel tersebut dapat dikatakan valid dengan karena memiliki korelasi yang positif. Kalau kita sederhanakan, dari lima variabel tersebut sebenarnya terdapat tiga aspek penting dalam melihat kebahagiaan warga kota disuatu kota ataupun negara, dalam hal ini adalah, pertama tingkat kesejahteraan yang erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, lalu tingkat kesehatan dan pendidikan erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia, dan tata kelola pemerintahan nya yang diperlukan dalam menjamin warga kota untuk memiliki kenyamanan keamanan dan kebebasan berekspresi dalam memenuhi kesejahteraanya dengan sedikitnya kasus kriminalitas yang terjadi.
Melalui indikator kota bahagia, Kota-kota di dunia telah berhasil dilakukan pengukuran setiap tahunnya, dan salah satunya yang menjadi acuan adalah World Happiness Report 2023 yang dikeluarkan oleh Gallup World Poll Data yang juga bekerja sama dengan universitas dan lembaga peneliti lainnya untuk mengukur kota-kota dunia dengan tingkat kebahagiaan nya masing-masing. Secara berurutan dari yang tertinggi adalah Kota Helsinki-Finlandia, Aarhus-Denmark, Reykjavik-Iceland, Tel Aviv-Israel, Amsterdam-Netherlands, Stockholm-Sweden, Bergen Norway, Zurich Switzerland, Luxembourg, dan Wellington New Zealand. Ke sepuluh kota tersebut setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini tidak mengalami kenaikan dan penurunan signifikan, yang artinya belum ada kota atau negara lainnya yang secara progressif memperlihatkan kenaikan dalam berbagai aspek penilaian kota bahagia, dengan kata lain kota tidak banyak berbenah ke arah yang positif untuk mencoba memenuhi kebutuhan warga kota nya.
10 Kota Terbaik Di Dunia

Sumber: World Happiness Report 2023
Kota Terbaik No 1 Di Dunia

Secara sederhana dapat kita tarik kesimpulan bahwa, kota dapat disebut sebagai kota bahagia ketika warga kota nya merasa bahagia. Artinya ada kepuasan tersendiri yang didapatkan dari berbagai fasilitas dan kenyamanan yang mereka dapatkan dalam bertempat tinggal serta berinteraksi satu sama lain di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk meningkatkan meningkatkan indeks kebahagiaan disuatu kota tentu dengan melakukan pembangunan yang tepat guna atau sesuai dengan kebutuhan warga kota nya, sehingga perencanaan pembangunan sampai pelaksanaan dan penyelenggaraanya harus lebih dekat lagi dengan warganya, dengan begitu fasilitas yang dibangun atau disediakan oleh pemerintah dapat dinikmati setiap warga kota. Berdasarkan peringkat di atas ternyata Posisi negara kita, Indonesia masih di bawah diurutan 50 besar, tepatnya pada tahun 2023 peringkat 84 yang dapat artikan pembangunan nya masih jauh dari kata baik. Lalu kenapa Indonesia diposisi tersebut padahal kita sudah lama menganut sistem perencanaan dari bawah dengan adanya musyawarah pembangunan mulai dari tingkat desa sampai nasional, oleh karena itu kami akan ulas pada tulisan berikutnya di mana posisi Indonesia dalam kota-kota dunia dengan tingkat kebahagiaannya, dan apa yang melatar belakangi kota-kota di Indonesia tidak berada di peringkat puncak kota Bahagia.
Penasaran ?
Referensi
- Trilok Kumar Jain. 2019. Concept of Happy City: the Smart Cities of the Future. DOI:10.2139/ssrn.3314531.
- Cities4Children. https://cities4children.org/blog/ideas-for-action-how-to-create-a-happy-city/. Diakses pada 28 Maret 2023.
- Helliwell, J. F., Layard, R., Sachs, J. D., Aknin, L. B., De Neve, J.-E., & Wang, S. (Eds.). (2023) World Happiness Report 2023 (11th ed.). Sustainable Development Solutions Network.