Oleh: Arszandi Pratama, S.T, M.Sc., Warid Zul Ilmi, S.P.W.K., Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Kota-kota di dunia tidak terlepas dengan adanya pertumbuhan penduduk dan proses urbanisasi yang membuat kota tersebut menjadi lebih padat dan secara struktur berubah seiring dengan terjadinya pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Salah satu yang dapat mengkatalis pertumbuhan wilayah tersebut adalah transportasi, seperti LRT ( Light Rail Transit) yang telah digunakan dibanyak kota-kota dunia yang dalam beberapa studi dijelaskan telah dan mampu merubah tata guna lahan sekitar kawasan transit tersebut. Seperti Kota Nanjing, China dalam kurun waktu 10 tahun telah terjadi perubahan guna lahan sebesar 24% dari adanya LRT tersebut. Beberapa kota lainnya seperti Granada Spanyol, Ontario Kanada, Tokyo Jepang, Singapura dan banyak negara maju lainnya.
Keterhubungan antara sistem perkotaan dan aksesibilitas transportasi berada pada keterkaitan penggunaan lahan dan aksesibilitas terhadap moda transportasi yang mereka bisa jangkau. Pertumbuhan kota dipengaruhi dari permintaan dari para pengguna transportasi umum. Bahkan menurut cohen-blankshtain dan Feitelson pada tahun 2011 dengan melakukan investasi terhadap pembangunan LRT akan mendorong perubahan guna lahan di daerah sehingga dapat meningkatkan harga sewa lahan yang mendorong pembangunan dengan kepadatan yang tinggi sehingga kota tersebut terus tumbuh dengan konsep pengembangan kota transit. Terdapat enam faktor yang telah dikelompokkan oleh Christopher, Mark, dan Pavlos pada Jurnal Light Rail and Land Use Change: Rail Transits Role in Reshaping and Revitalizing Cities yaitu Aksesibilitas, Permintaan dan pertumbuhan yang positif, Kondisi sosial, Kondisi fisik, Ketersediaan lahan dan Perencanaan yang lengkap. Kota-kota dunia yang tumbuh dari kawasan transit tersebut antara lain San Frasisco, Washington DC, Calgary, Sandiego, Edmonton, Toronto, Montreal, Philadelphia, Boston, Chicago, Cleveland, New York, Los Angels, Seattle, dan Miami.
Stasiun LRT terbukti dapat mendekatkan aksesibilitas dari hunian ke tempat tujuan mereka, pembangunan yang berorientasi transit menjadi pilihan dalam menekan pengeluaran terhadap ongkos transportasi sehari-hari sedikit banyak merubah guna lahan sekitar kawasan tersebut.
Kawasan transit tersebut tidak selalu berdampak baik bergantung dari karakteristik wilayah yang ditempati, jika pertumbuhan lambat dan pasar real estate lemah maka risiko bagi pengembang akan lebih tinggi dan intervensi pasar yang signifikan untuk dapat membangun hunian di kawasan transit yang tentunya perlu ada dukungan dari kebijakan kota tersebut mulai dari perpajakan, suku bunga, dan perizinan pembangunan. Dukungan lainnya dengan membentuk ekosistem yang nyaman untuk melakukan transit antar moda satu dan lainnya tentu perlu dilengkapi jalur pejalan kaki, taman, tumbuhan perindang, dan utilitas lainnya yang dapat mendukung terciptanya kebiasaan menggunakan transportasi umum. Faktor keamanan menjadi penting karena dapat merubah persepsi kondisi sosial selain kemiskinan, pengangguran, kualitas sekolah, atau persepsi umum tentang ketidakberuntungan. Ketersediaan lahan juga menjadi kunci penting dalam proses pembangunan di kawasan transit, karena banyak lahan yang akhirnya membutuhkan waktu yang sangat lama pada tahap konsolidasi lahan sehingga penting bagi pemerintah untuk memiliki aset. Terakhir adalah melakukan dukungan terhadap penyelenggaraan pembangunan berorientasi transit seperti penetapan kebijakan zonasi, pembiayaan, dan perencanaan tata ruang.
Menelisik kota-kota dunia yang berhasil membangun kota di sekitar kawasan pembangunan LRT seperti: Granada Spanyol, Ontario Kanada, Tokyo Jepang, Singapura. Salah satu kota yang berhasil berkembang di sekitar kawasan LRT yaitu Kota Toyoma City di Jepang. Salah satu kontribusi utama LRT terhadap kebijakan kota kompak Kota Toyama adalah perubahan positif dalam perilaku masyarakatnya dalam melakukan perjalanan, terutama masyarakat yang mulai memasuki lansia. Dengan adanya LRT, masyarakat yang menginjak usia lansia dapat melakukan aktivitas ke tempat yang dituju menggunakan LRT. Selain itu, banyak masyarakat yang mulai bermigrasi ke daerah di sekitar pembangunan LRT/ koridor jalur LRT sehingga membuat perencanaan di sekitar jalur LRT ditingkatkan lebih baik kembali. Terakhir dari Pembangunan LRT di Toyoma City, kita dapat mengetahui bahwa LRT juga berpengaruh terhadap kenaikan harga lahan. Berikut data kenaikan penumpang lansia dan kenaikan harga lahan di Kawasan LRT Toyoma City.
Data Kenaikan Penumpang

Sumber: Paul Kriss, Haruka Miki-Imoto, Hiroshi Nishimaki, Takashi Riku. 2021
Data Kenaikan Harga Lahan di Sekitar Kawasan LRT

Sumber: Paul Kriss, Haruka Miki-Imoto, Hiroshi Nishimaki, Takashi Riku. 2021
Pembangunan LRT sendiri dapat berfungsi sebagai katalis dalam pengoptimalan tata ruang perkotaan dan peluang dalam merekonstruksi pola penggunaan lahan perkotaan. Utamanya dalam peningkatan aksesibilitas tranpotasi dan pertumbuhan sumber daya lahan yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu penting adanya pemahaman bagi pembuat kebijakan dan para perencana wilayah dan kota belajar dari kota-kota dunia yang telah membangun LRT sebagai moda transportasinya dan menerapkan konsep pengembangan kota berbasis transit untuk lebih dulu mengintervensi perencanaan di kawasan transit tersebut dengan memperhatikan upaya dalam peningkatan aksesibilitas, pertumbuhan regional dan permintaan untuk pembangunan dan kebijakan publik.
Referensi
Na Jiaming, Zhu Jie, Di Shaoning, Ding Hu, dan Ma Lingfei. 2021. Celular Automata Based Land – Use Change Simulation Considering Spatio – Temporal Influence Heterogeneity of Light Rail Transit Construction: A Case in Nanjing, China. International Journal of Geo-Information. MDPI. China.
Lara J A S, Francisco Aguilera – Benavente F A, dan Lopez A A. 2016. Integrating Land Use and Transport Pratice Through Spatial. Transportation Research Part A 91. 330-345. Spain.
Higgins C D, Ferguson M R. Kanaroglou P S. 2014. Light Rail and Land Use Change: Rail Transits Role in Reshaping and Revitalizing Cities. Journal of Public Tranportation. Vol 17.
Paul Kriss, Haruka Miki-Imoto, Hiroshi Nishimaki, Takashi Riku. 2021. Toyama City: Compact City Development. World Bank.