Kota Utama Jenuh, PINDAH KE PINGGIRAN SAJA

Oleh: Arszandi Pratama, S.T, M.Sc., Warid Zul Ilmi, S.P.W.K., Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan kota utama lainnya sangatlah memiliki peranan penting dan besar dalam memutar roda perekonomian kota utamanya dan kabupaten/kota sekitar. Industri, Perkantoran, dan Usaha-usaha Informal bermunculan. Hal tersebut juga yang membawa penduduk Indonesia melakukan migrasi/ perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lainnya, adapun ketika individu-individu tersebut berpindah ke kawasan perkotaan atau biasa kita sebut sebagai fenomena urbanisasi tersebut menjadi lumrah di dunia. Namun saat ini, Indonesia sedang menunjukan fenomena yang berbeda, ada pola yang cukup unik pasca lebaran bahwa migrasi penduduk di Indonesia justru berpindah dari kota ke kota sebelahnya atau biasa kita sebut daerah suburban/pinggiran kota. Berikut 10 daerah utama migrasi penduduk di Indonesia:

Kita tidak lagi melihat fenomena urbanisasi karena kota-kota yang disebutkan di atas sudah mengalami kejenuhan, penduduk yang semakin padat, lahan yang semakin sempit dan mahal, polusi dan kerusakan lingkungan yang semakin parah. Pada akhirnya munculah istilah post urbanisasi yang dipertegas dengan data migrasi dari Kota Besar atau Kota Utama ke Kota Penyangga/Kota Pinggirannya pasca idul fitri ini. Post urbanisasi sendiri telah kami bahas dan dipublikasi untuk mengetahui lebih lanjut menegnai post urbanisasi bisa klik di sini.  

Indonesia sedang menunjukan perubahan dari adanya perpindahan penduduk dari kota utama ke kota pinggirannya/kota penyangga. Masyarakat saat ini memilih preferensi untuk bertempat tinggal menghabiskan hidupnya di kawasan pinggiran kota. Daerah penyangga tersebut dapat kita kenali dengan mudah seperti Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tangerang, Kab Sleman, Kota Tangerang, dan Bandung. Kesepuluh kota tersebut merupakan destinasi kota tujuan mereka yang jenuh dengan Kota Utama seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan. Perpindahan penduduk tersebut disertai dengan berbagai alasan, ada yang urusan pekerjaan, membangun rumah tangga dari keluarga muda, memperoleh pendidikan atau lingkungan yang lebih kondusif dan asri serta masih banyak alasan lainnya. Namun kebanyakan dari alasan tersebut adalah tempat tinggal, karena bertempat tinggal di kota penyangga/kota pinggiran membuat mereka merasa jauh lebih nyaman dengan kondisinya yang tidak terlalu padat, masih cukup asri dengan pepohonan atau landscape perkotaan banyak yang masih hijau, kemudahan  transportasi yang tidak kalah dengan kota utama bahkan terintegrasi, serta biaya hidup dan lahan yang jauh lebih terjangkau. 

Lalu apakah akan ada masalah baru yang ditimbulkan dari fenomena ini ? 

Sebenarnya setiap keputusan pasti meninggalkan atau membuat permasalahan baru. Lalu apa masalahnya? tentu masalahnya kota pinggiran/kota penyangga ini suatu saat nanti akan menjadi kota utama juga, dan bisa jadi akan jauh lebih parah kondisinya jika tidak direncanakan tata ruangnya sebaik mungkin serta penegakan pengendalian tata ruangnya. 2 hal tersebut sangat penting untuk merencanakan dan menegakkan hukum agar pembangunan sesuai dengan perencanaan yang ada. Dengan melihat permasalahan yang ada di kota-kota utama, sangat penting untuk kawasan disekitarnya dala mengintervensi masalah di kota utama dan membuat solusi sebagai langkah awal dalam proses perkembangannya. Agar di kemudian hari, permsalahan kota-kota utama tidak terjadi kembali di kawasan penyanggah.

Masalah kota utama seperti kemacetan, kerusakan lingkungan, harga-harga yang terlampau tinggi membuat penduduk merasa tidak nyaman dan sulit untuk bertahan. Selain itu, tidak hanya bersaing mendapatkan pekerjaan dengan 1 domisili tapi berbagai orang ingin mengadu nasib di kota-kota utama juga. Sudah tidak ada lagi cerita bertahan hidup di ibu kota hanya bermodalkan tekad, tanpa skills yang bisa dijual. Fenomena yang sebenarnya cukup unik berbeda di Dunia, yang masyarakat globalnya banyak berpindah untuk bertempat tinggal di kota. Di Indonesia mulai ada kecenderungan untuk meninggalkan kota utama dan berpindah ke daerah pinggiran. Mungkin bisa jadi ke depan penduduk akan kembali ke kampung-kampung atau desa tempat mereka, orang tua, atau nanek-kakek mereka lahir. 

Untuk mencapai ke arah sana harus ada trigger yang jauh lebih besar bukan hanya sekedar kesempatan kerja dan lengkapnya fasilitas pendidikan saja. Namun, dari fenomena migrasi yang terjadi juga menunjukan karakteristik masyarakat kita yang sebenarnya masih membutuhkan fasilitas perkotaan yang lengkap, infrastruktur yang memudahkan dengan teknologinya yang aktual, dan berbagai hal yang hanya bisa didapatkan di kota besar. Namun “kemalasan”  dalam tanda kutip membuat mereka hanya melakukan pergeseran saja, dengan kata lain, “Kota Utama Jenuh, Tinggal Geser Dikit Aja” mungkin kalimat ini yang mudah kita sematkan dari apa yang terjadi dengan angka migrasi di Indonesia. 

Tapi, perlu kita ingat bersama, bahwa setiap yang terjadi pasti ada sebab dan akibat. Hal ini yang perlu diperdalam apakah benar hanya persoalan yang sudah dibahas sebelumnya di atas, atau justru ada hal lain yang saat ini belum bisa kita nalarkan. Namun terlepas apapun itu, pemerintah dan pengusaha sudah sepatutnya bersikap cepat dan tepat dalam menangkap fenomena ini. Hal tersebut dikarenakan terdapat dampak besar dan dapat merugikan yang akan terjadi jika dalam menyusun regulasi atau kebijakan publik tidak dapat memitigasi dari fenomena tersebut. Dampak negatif yang terjadi di kota utama dapat kembali terjadi di kawasan penyanggah kota utama sehingga menyebabkan “chaos” seperti kota utamanya. 

Kota Utama Keos, Kota Penyangga Juga Keos. lantas mau di mana lagi kita bertempat tinggal? pendekatan apa yang perlu dilakukan? Atau memang solusinya hanya sedikit bergeser saja ? 

Menurut kalian gimana ? 

Referensi

  1. Jakarta Bukan Lagi Tujuan Migrasi https://www.kompas.id/baca/riset/2023/05/04/jakarta-bukan-lagi-tujuan-migrasi diakses 4 Mei 2023
  2. Pindah ke Kota untuk Perbaiki Hidup https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/05/03/pindah-ke-kota-untuk-perbaiki-hidup diakses 4 Mei 2023
  3. Kota Depok, Tetangga Jakarta yang Jadi Magnet bagi Para Pendatang https://www.kompas.id/baca/metro/2023/05/02/tantangan-kota-depok-menghadapi-arus-urbanisasi diakses 4 Mei 2023
  4. Ekonomi, Faktor Utama Migrasi – https://www.kompas.id/baca/riset/2023/05/04/ekonomi-faktor-utama-migrasi diakses 4 Mei 2023
  5. Erie Sadewo, Ibnu Syabri dan Pradono. 2018.Post-Suburbia dan Tantangan Pembangunan Di Kawasan Pinggiran Metropolitan: Suatu Tinjauan Literatur. Majalah Geografi Indonesia Vol. 32, No.2, September 2018 (130-141). Yogyakarta.

Leave a comment