Oleh: Salman Rasyad Hamiseno, S.I.P
I. Pendahuluan
Kesehatan masyarakat perkotaan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin besar akibat pesatnya urbanisasi, ketimpangan sosial-ekonomi, serta kualitas lingkungan yang menurun. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di kota-kota besar, masalah kesehatan seperti penyakit tidak menular (PTM), polusi udara, dan terbatasnya akses terhadap fasilitas kesehatan semakin mendesak untuk segera ditangani. Data Badan Pusat Statistik pada 2023 mengungkapkan prevalensi penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung semakin meningkat di wilayah perkotaan, yang menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengembangkan kebijakan kesehatan yang lebih inklusif dan berbasis bukti.Dengan pertumbuhan urbanisasi yang sangat cepat, kualitas hidup masyarakat semakin terancam oleh masalah-masalah kesehatan yang berkaitan langsung dengan lingkungan hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan kesehatan yang tidak hanya mengandalkan fasilitas medis, tetapi juga mengutamakan peningkatan kualitas lingkungan dan gaya hidup sehat masyarakat.
II. Pengertian Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Kesehatan masyarakat perkotaan dapat didefinisikan sebagai kondisi fisik, mental, dan sosial yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti polusi udara, kualitas air, sanitasi yang buruk, serta gaya hidup yang dipengaruhi oleh tekanan kehidupan perkotaan yang sibuk. Perkotaan, dengan segala dinamikanya, menyajikan tantangan bagi kesehatan warganya, baik dalam bentuk polusi udara maupun kurangnya ruang terbuka hijau. Kesehatan yang baik di perkotaan tidak hanya didasarkan pada ketersediaan fasilitas medis, tetapi juga pada bagaimana kota tersebut mendukung gaya hidup sehat, baik dari segi fisik maupun mental. Oleh karena itu, penting bagi sebuah kota untuk menyediakan ruang untuk aktivitas fisik dan sosial yang mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
III. Indikator Kesehatan di Perkotaan
Terdapat sejumlah indikator kesehatan yang penting dalam menilai kualitas hidup masyarakat perkotaan yaitu mencakup kualitas udara, akses terhadap fasilitas kesehatan, kebersihan lingkungan, serta tingkat aktivitas fisik. Jakarta, misalnya, memiliki konsentrasi PM2.5 tahunan yang tercatat mencapai 92 µg/m³, jauh melebihi standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 µg/m³ (IQAir, 2024). Polusi udara sangat memengaruhi kesehatan pernapasan dan penyakit jantung di kalangan masyarakat kota. Selain itu, data dari Kementerian Kesehatan (2024) menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia yang mencapai 19.8%, sebuah angka yang mengindikasikan adanya masalah gizi yang masih mengancam anak-anak di perkotaan, terutama di kalangan keluarga dengan akses terbatas ke makanan bergizi. BPS pada 2024 juga mencatat bahwa 4,72% kebutuhan layanan kesehatan di perkotaan belum terpenuhi, menunjukkan adanya ketimpangan dalam distribusi fasilitas kesehatan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Terbatasnya ruang terbuka hijau di beberapa kota besar juga menghambat masyarakat untuk berolahraga secara teratur, yang berkontribusi pada meningkatnya kasus obesitas dan gangguan kesehatan lainnya.
IV. Faktor-Faktor Pendukung dalam Mendorong Masyarakat Sehat
Terdapat sejumlah faktor utama yang mendukung terciptanya masyarakat sehat di perkotaan yaitu: pendidikan kesehatan yang tepat sasaran, keterlibatan aktif masyarakat dalam program kesehatan, dan kebijakan pemerintah yang mendukung gaya hidup sehat. Sebagai contoh, dilaksanakannya program pemberian makanan bergizi untuk anak-anak dan ibu hamil bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting yang masih sangat tinggi, diharapkan dapat mengurangi ketimpangan dalam distribusi gizi sehat di kalangan masyarakat kurang mampu, terutama di kawasan padat penduduk perkotaan. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau dan fasilitas olahraga yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Keberadaan taman kota, jalur sepeda, dan fasilitas olahraga publik sangat penting untuk mendorong masyarakat agar beraktivitas fisik secara rutin, yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes, dan obesitas. Di sisi lain, teknologi digital seperti aplikasi kesehatan dan telemedicine semakin menjadi alternatif untuk mempermudah akses masyarakat perkotaan terhadap layanan kesehatan.
V. Tantangan dalam Meningkatkan Kesehatan di Perkotaan
Meskipun terdapat sejumlah kebijakan yang telah diterapkan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh warga kota untuk menjaga kesehatan mereka. Kehidupan yang penuh tekanan dan kesibukan pekerjaan sering kali membuat individu kesulitan untuk menyisihkan waktu untuk berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat. Selain itu, keterbatasan ruang terbuka hijau di beberapa kota besar menghambat masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2023 mengungkapkan lebih dari 50% kota besar di Indonesia masih kekurangan ruang terbuka hijau yang memadai untuk kegiatan fisik masyarakat. Selain itu, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan juga menjadi masalah yang serius. Banyak masyarakat perkotaan, terutama yang tinggal di kawasan padat penduduk, kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Ketidakmerataan distribusi fasilitas kesehatan menambah kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam memperoleh layanan dasar yang mereka butuhkan.
VI. Kesimpulan
Indikator kesehatan yang komprehensif, seperti kualitas udara, pola makan sehat, akses fasilitas kesehatan, serta aktivitas fisik memegang peranan penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat di perkotaan. Pemerintah perlu lebih fokus pada peningkatan infrastruktur yang mendukung gaya hidup sehat, seperti memperbanyak ruang terbuka hijau, menyediakan fasilitas olahraga yang terjangkau, serta memperbaiki akses layanan kesehatan yang lebih merata di seluruh lapisan masyarakat. Dengan perhatian terhadap kualitas udara, gizi, dan ruang publik yang memadai, kota-kota besar di Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk warganya.
VII. Rekomendasi
Pemerintah daerah perlu memperbanyak ruang terbuka hijau dan fasilitas olahraga publik yang dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan, terutama di kawasan perkotaan yang padat. Selain itu, pengembangan kebijakan yang mendorong masyarakat untuk mengakses makanan sehat dan meningkatkan kualitas kesehatan mental sangat dibutuhkan. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta sangat penting untuk mempercepat terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Program-program pendidikan kesehatan yang berbasis bukti ilmiah mengenai pola makan sehat dan aktivitas fisik harus diperluas agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mereka untuk masa depan yang lebih baik.
VIII. Referensi
Badan Pusat Statistik. (2024). Unmet need of health services by urban-rural classification. Badan Pusat Statistik.
IQAir. (2024). Kualitas udara di Jakarta. IQAir.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei status gizi Indonesia (SSGI) 2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Laporan kualitas udara dan ruang terbuka hijau di perkotaan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.