Game Online dan Ruang Terbuka Hijau dalam Konteks Tantangan Sosial Anak-Anak di Indonesia

Oleh: SSalman Rasyad Hamiseno, S.I.P

I. Pendahuluan

Di Indonesia, fenomena kecanduan game online di kalangan anak-anak dan remaja semakin mengkhawatirkan. Game online, yang awalnya hanya menjadi sarana hiburan, kini telah berkembang menjadi gaya hidup yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, terutama dalam hal interaksi sosial. Ketergantungan pada dunia maya ini tidak hanya menurunkan kemampuan anak-anak untuk berinteraksi secara langsung, tetapi juga meningkatkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan gangguan tidur. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengoptimalkan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai ruang sosial yang sehat, yang tidak hanya mengurangi ketergantungan pada game, tetapi juga mendukung perkembangan fisik dan emosional anak-anak.

II. Perkembangan Game Online di Indonesia

Indonesia telah menjadi pasar terbesar untuk game online di Asia Tenggara. Menurut laporan We Are Social (2023), lebih dari 60% remaja di Indonesia aktif bermain game online, yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah pemain game terbesar di dunia. Dengan total pendapatan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 30 triliun pada tahun 2023, sektor ini berkembang pesat. Namun, dampak negatif dari kecanduan game tidak dapat diabaikan. Penelitian dari American Psychological Association (APA) (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari bermain game online cenderung lebih rentan terhadap gangguan emosional, seperti kecemasan dan depresi. Selain itu, anak-anak yang terlalu sering bermain game cenderung menghindari interaksi sosial dengan teman sebaya, yang penting untuk perkembangan keterampilan sosial mereka.

Kecanduan game online dapat menyebabkan anak-anak kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat dan meningkatkan kemampuan mereka dalam berkolaborasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Mengalihkan perhatian anak-anak dari dunia digital ke dunia nyata melalui interaksi sosial dan aktivitas fisik di ruang terbuka hijau dapat menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif ini.

III. Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai Solusi Alternatif

RTH dapat berperan besar dalam mengatasi kecanduan game online dengan menyediakan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi sosial, beraktivitas fisik, dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Menurut World Health Organization (WHO) (2022), RTH yang dirancang dengan baik dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan keterampilan sosial, dan memberikan manfaat bagi kesehatan fisik. Anak-anak yang sering menghabiskan waktu di RTH cenderung memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dan tingkat depresi yang lebih rendah.

Selain itu, RTH berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan fisik yang dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak. Dengan menyediakan fasilitas seperti taman bermain edukatif, area olahraga, dan ruang seni, RTH dapat merangsang kreativitas anak-anak dan memberi mereka kesempatan untuk belajar sambil bermain. Program-program interaktif dan edukatif yang diselenggarakan di RTH, seperti lomba seni atau festival olahraga, akan mendorong anak-anak untuk menghabiskan waktu di luar rumah, yang membantu mengurangi ketergantungan mereka pada teknologi.

IV. Peran Pemerintah dalam Mengoptimalkan Ruang Publik

Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan pengembangan dan pengelolaan RTH yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota di Indonesia diharuskan menyediakan minimal 30% ruang terbuka hijau, dengan 20% di antaranya harus dapat diakses oleh masyarakat umum. Namun di banyak daerah, terutama kota-kota besar, masih kekurangan RTH yang memadai. Kualitas dan keberagaman fasilitas RTH yang ada sering kali tidak cukup mendukung perkembangan sosial anak-anak.

Untuk itu, pengelolaan RTH harus dilakukan dengan memperhatikan aspek aksesibilitas, keberagaman fasilitas, dan keamanan. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa RTH yang ada tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial dan edukatif anak-anak, serta meningkatkan kualitas RTH dengan menyediakan fasilitas yang ramah anak, seperti taman bermain edukatif dan ruang olahraga, akan membantu menciptakan ruang yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga mendidik.

V. Strategi Menghadapi Tantangan Anak-anak Anti Sosial

Dalam menghadapi tantangan anak-anak yang cenderung anti sosial karena kecanduan game online, pemerintah perlu mengembangkan strategi yang mencakup penyediaan RTH yang lebih menarik dan interaktif. Kegiatan fisik yang dilakukan di luar ruangan juga dapat membantu anak-anak meningkatkan keterampilan sosial mereka dan mengurangi isolasi sosial. Taman bermain yang dilengkapi dengan teknologi berbasis augmented reality (AR) atau permainan edukatif berbasis digital dapat menjadi pilihan menarik untuk menarik perhatian anak-anak yang sudah terbiasa dengan teknologi.

Selain itu, RTH yang dilengkapi dengan fasilitas seni dan budaya, seperti teater terbuka atau area seni, juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajak anak-anak berinteraksi secara sosial. Program-program yang melibatkan seni, olahraga, dan edukasi lingkungan dapat membantu anak-anak mengembangkan kreativitas, meningkatkan keterampilan sosial, dan mempererat hubungan dengan teman sebaya serta keluarga.

VI. Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau

Partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan RTH sangat penting untuk memastikan bahwa fasilitas tersebut tetap terawat dan relevan dengan kebutuhan komunitas. Pengelolaan RTH yang melibatkan masyarakat dalam merancang dan merawat ruang terbuka hijau memiliki dampak positif terhadap keberlanjutan fasilitas tersebut. Program-program seperti gotong royong dalam perawatan taman atau kegiatan komunitas yang melibatkan anak-anak akan memperkuat rasa kepemilikan terhadap ruang publik dan mempererat hubungan sosial antarwarga.

Lebih dari itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah (NGO) dalam pengembangan dan pemeliharaan RTH akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan ruang terbuka hijau yang lebih berkualitas dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

VII. Kesimpulan

Kecanduan game online adalah masalah yang sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak-anak di Indonesia. Namun, dengan mengoptimalkan ruang terbuka hijau yang ramah anak dan dilengkapi dengan fasilitas yang edukatif dan interaktif, pemerintah dapat menyediakan alternatif yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari game online. RTH yang baik dapat menjadi ruang sosial yang mendukung perkembangan fisik, emosional, dan sosial anak-anak. Selain itu, RTH yang dikelola dengan baik, dengan melibatkan masyarakat dan sektor swasta, dapat menciptakan ruang yang lebih berkualitas untuk mendukung perkembangan anak-anak Indonesia di masa depan.

VIII. Saran

Pemerintah daerah disarankan untuk dapat mempercepat pengembangan RTH yang ramah anak dengan menyediakan fasilitas yang mendukung aktivitas fisik, sosial, dan edukatif, seperti taman bermain edukatif, ruang olahraga, dan ruang kreatif. Selain itu, pengelolaan RTH harus melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan dan pemeliharaan fasilitas yang ada. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang publik yang dapat mendukung perkembangan sosial yang sehat bagi anak-anak, serta mengurangi dampak negatif dari kecanduan game online.

IX. Referensi

American Psychological Association. (2023). Video game addiction and its impact on children’s emotional health. American Psychological Association.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007. (2007). Tentang Penataan Ruang. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

We Are Social. (2023). Digital 2023: Global Overview Report. We Are Social.

World Health Organization (WHO). (2022). The role of urban green spaces in promoting health and well-being. World Health Organization.

Leave a comment