Mengoptimalkan Kegagalan Pengembangan Bandara di Indonesia

Oleh: Salman Rasyad Hamiseno, S.I.P

Pengembangan bandara di Indonesia menjadi aspek penting dalam mendukung konektivitas di dalam dan luar negeri. Dibangun dengan investasi dalam jumlah yang besar, sayangnya beberapa proyek bandara mengalami kegagalan dalam operasionalnya. Salah satu contoh kegagalan tersebut adalah Bandara Internasional Kertajati yang terletak di Jawa Barat. Dibangun dengan anggaran yang cukup besar, bandara ini hingga kini belum mampu beroperasi secara maksimal. Kasus Bandara Kertajati memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi pengembangan bandara lainnya yang memiliki potensi masalah serupa, salah satunya Bandara Kediri yang saat ini baru saja kembali beroperasi. Oleh sebab itu, penting untuk mengambil pelajaran dari  kegagalan Bandara Kertajati dan potensi kegagalan Bandara Kediri sebagai langkah penting untuk menghindari masalah serupa dan memastikan kesuksesan pengembangan infrastruktur bandara di Indonesia.

Kegagalan Bandara Kertajati

Pada mulanya, Bandara Kertajati dibangun dengan harapan menjadi bandara internasional yang melayani wilayah Jawa Barat. Namun, setelah beroperasi sejak 2018, bandara ini menghadapi berbagai kendala yang menghambat kinerjanya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun sampai mengalami kerugian operasional hingga Rp60 miliar per tahun karena pemasukan belum mampu menutupi biaya operasional dan pemeliharaan. Hal tersebut merupakan akibat dari  Bandara yang awalnya diproyeksikan melayani 5,6 juta hingga 12 juta penumpang per tahun pada 2024, dan 29,3 juta pada 2032. Namun, pada Januari-Oktober 2024, jumlah penumpang hanya sekitar 165.230 orang, turun 60% dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 411.020 orang.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya trafik penumpang adalah lokasi bandara yang terletak cukup jauh dari pusat-pusat ekonomi besar, seperti Bandung (sekitar 100 km) dan Cirebon (sekitar 55 km). Ditambah lagi, akses transportasi darat yang terbatas dan biaya perjalanan yang cukup tinggi membuat banyak calon penumpang lebih memilih menggunakan Bandara Soekarno-Hatta yang lebih terhubung dengan berbagai moda transportasi. Hal ini menyebabkan rendahnya jumlah penerbangan yang dilayani dan mengurangi potensi bandara ini untuk beroperasi secara optimal (Wijayanto et al., 2025)

Pelajaran dari Bandara Kegagalan di Dunia

Pengalaman Bandara Kertajati juga sejalan dengan kasus kegagalan bandara di dunia, salah satunya adalah Bandara Berlin Brandenburg (BER) yang merupakan salah satu bandara dengan anggaran pembangunan terbesar di Eropa. Bandara ini mengalami keterlambatan lebih dari satu dekade, meskipun proyeknya dimulai pada 2006, dan baru beroperasi pada 2020. Masalah yang terjadi di BER mencakup perencanaan yang buruk, kegagalan manajemen, dan desain teknis yang tidak memadai, yang menyebabkan peningkatan anggaran yang signifikan dan penundaan operasional (Phadtare, 2025). Selain itu, biaya proyek meningkat drastis dari perkiraan awal sekitar 2,5 miliar euro menjadi lebih dari 7 miliar.

Setelah dibuka, bandara ini menghadapi kerugian operasional yang sangat tinggi, terutama pada tahun 2020-2023. Pada puncaknya, tercatat  sekitar 120.000 cacat konstruksi, dengan beberapa laporan menyebutkan hingga 550.000 masalah yang harus diperbaiki. Pengalaman ini menggarisbawahi bahwa meskipun suatu bandara memiliki infrastruktur modern, faktor-faktor seperti perencanaan yang buruk dan pengelolaan yang tidak efektif dapat menyebabkan kegagalan operasional.

Selain di Berlin, terdapat juga kasus kegagalan serupa yaitu Bandara Internasional Mattala Rajapaksa (MRIA) di Sri Lanka, dan Bandara Internasional Montréal-Mirabel di Kanada. MRIA sering disebut “bandara hantu” karena lalu lintas penumpang yang sangat minim sejak dibuka pada tahun 2013. Dibangun di daerah pedesaan Hambantota dengan biaya sekitar 209 juta USD yang sebagian besar didanai oleh pinjaman dari Tiongkok, bandara ini gagal menarik maskapai penerbangan atau penumpang yang cukup karena lokasinya yang terpencil dan kurangnya permintaan pasar, yang menyebabkan kerugian finansial signifikan dan menjadikannya beban ekonomi bagi negara (Gunasekara & Senaratne, 2024).

Kasus serupa terjadi pada Montréal-Mirabel, yang dibuka pada tahun 1975. Meskipun dirancang untuk menjadi pusat penerbangan terbesar, lokasinya yang terpencil sekitar 50 km dari pusat kota Montréal membuatnya tidak populer. Semua penerbangan penumpang komersial dihentikan pada tahun 2004, dan bandara ini kini hanya digunakan untuk kargo, menjadikannya “gajah putih” dan kesalahan perencanaan infrastruktur besar di Kanada (Roy, 2023).

Potensi Kegagalan Bandara Kediri

Bandara Kediri, yang saat ini baru saja kembali dibuka, menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Terletak tidak jauh dari Bandara Juanda dan Bandara YIA yang lebih besar dan memiliki trafik tinggi, Bandara Kediri harus bersaing dalam menarik maskapai dan penumpang. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah minimnya trafik penerbangan yang berpotensi membuat bandara ini tidak dapat menopang biaya operasionalnya. 

Maskapai di bandara tersebut hanya melayani penerbangan dengan frekuensi rendah (misalnya hanya dua kali per minggu di awal), sehingga tidak banyak menarik penumpang dan menyebabkan tingkat keterisian penumpang yang rendah. Jumlah penumpang harian tersebut masih sangat minim dibandingkan kapasitas bandara, jauh dari rata-rata load factor maskapai komersial Indonesia yang biasanya berkisar antara 70-85% untuk mencapai titik impas operasional. Tanpa adanya permintaan yang cukup, Bandara Kediri berisiko mengalami nasib serupa dengan Bandara Kertajati jika tidak dilakukan perencanaan yang matang.

Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Prospek Bandara Kediri

Untuk memastikan Bandara Kediri tidak mengalami potensi kegagalan kedepannya, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan. Pertama, pengembangan konektivitas transportasi darat harus menjadi prioritas utama yang menghubungkan Kediri dengan kota-kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, dan sekitarnya akan mengurangi waktu perjalanan dan biaya bagi penumpang, sehingga meningkatkan aksesibilitas bandara. Selain itu, penting juga untuk membangun sistem transportasi umum yang terjangkau dan efisien juga sangat penting untuk memudahkan masyarakat menggunakan Bandara Kediri (Akbar & Priyanto, 2023). Di sisi lain, diperlukan untuk menambahkan frekuensi penerbangan dan rute baru oleh maskapai, serta mengevaluasi strategi pengembangan ekonomi daerah untuk meningkatkan okupansi penumpang dan menjadikannya pusat kegiatan ekonomi yang lebih besar. 

Pemerintah pusat juga dapat memberikan insentif fiskal atau subsidi bagi maskapai yang membuka rute baru yang menghubungkan Kediri dengan kota-kota besar atau destinasi internasional, sehingga meningkatkan trafik penumpang. Pengembangan kawasan industri dan pariwisata di sekitar bandara sangatlah berperan penting dalam menarik lebih banyak pengunjung. Melalui kebijakan tersebut, Bandara Kediri dapat dikembangkan menjadi pintu gerbang pariwisata yang tidak hanya mengandalkan penerbangan, tetapi juga mendatangkan turis yang berpotensi meningkatkan jumlah penerbangan dan kegiatan ekonomi di daerah tersebut.

Kesimpulan

Dari pengalaman Bandara Kertajati dan kasus kegagalan bandara di dunia, dapat disimpulkan bahwa perencanaan yang matang, pengelolaan yang efektif, dan konektivitas yang baik adalah faktor utama dalam keberhasilan pengembangan bandara. Langkah-langkah seperti pengembangan konektivitas, kemitraan dengan maskapai penerbangan, dan pengembangan kawasan ekonomi di sekitar bandara sangat diperlukan agar bandara ini dapat beroperasi secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan perekonomian lokal. Dengan langkah-langkah yang tepat dan melibatkan semua stakeholder terkait, Bandara Kediri dapat menghindari kegagalan yang sama dan menjadi bandara yang sukses di masa depan.

Daftar Pustaka

Akbar, Y. R., & Priyanto, B. (2023). Analisis Manajemen Risiko Pada Proyek Pembangunan Access Road Bandara Internasional Dhoho Kediri. Journal of Science and Engineering, 2(7), 2097-2103.

Gunasekara, M., & Senaratne, D. (2024). The rise of infrastructure-induced human–elephant conflict in Sri Lanka: A case study of Mattala Rajapaksa International Airport. In Contested Airport Land (pp. 43-61). Routledge.

Phadtare, M. (2025). Brandenburg International Airport Berlin: Lessons for Managing Megaprojects. SAGE Publications: SAGE Business Cases Originals.

Roy, J. (2023). The Saga of Mirabel and Dorval Airports: Lessons for now and the future. Editions JFD.

Wijayanto, A., Djogo, Y. O., & Zulfikar, T. (2025). Peranan Kebijakan Infrastruktur dalam Mendukung Implementasi Strategi Perpinda-han Penerbangan Guna Meningkatkan Kualitas Pelayanan di Bandar Udara Kertajati Majalengka. Jurnal Ekonomi Dan Statistik Indonesia, 5(1), 134-148.

Leave a comment