(Series Generasi Sandwich Bagian 2)

Oleh : Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.
Generasi sandwich menjadi generasi yang harus pintar mengelola keuangan sekaligus kuat untuk menghadapi permasalahan finansial. Salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh generasi sandwich adalah kebutuhan rumah. Rumah menjadi kebutuhan penting yang harus dimiliki oleh generasi sandwich untuk persiapan masa depan. Untuk itu, bagi generasi sandwich akan sangat terbebani dengan segala bentuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya sehingga sering sekali takut untuk membeli rumah. Dengan pentingnya kebutuhan rumah tersebut, timbul pertanyaan bagaimana cara generasi sandwich untuk memenuhi kebutuhan rumah? Bagaimana pemerintah memberikan solusi terkait hal tersebut? Berikut penjelasannya.
Generasi Sandwich dan Kebutuhan Perumahan
Hal yang membedakan generasi sandwich dengan generasi lainnya adalah generasi sandwich memiliki beban yang lebih besar baik secara finansial maupun psikologis karena harus menjadi tulang punggung bagi orang lain (keluarganya). Umumnya, hal ini sering terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia yang masih menganut adat ketimuran dimana setiap orang dewasa merawat anak-anaknya sekaligus menghidupi orang tuanya/ mertuanya, akan tetapi hal tersebut tidak akan menjadi masalah jika kita dapat mempersiapkan dan memanajemen keuangan dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini dan dapat menabung untuk kebutuhan masa depan. Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang dialami oleh generasi sandwich:
- Masalah finansial
Generasi sandwich memiliki beban ganda secara finansial karena harus menghidupi orang tua, anak, adik dan diri sendiri. Jumlah kebutuhan yang harus dipenuhi akan semakin banyak sehingga menyebabkan generasi sandwich sulit untuk mengatur keuangan mulai dari mencukupi kebutuhan hidup, dana pendidikan, dana kesehatan, dan juga dana pensiun di masa mendatang. Padahal perencanaan keuangan yang baik merupakan kunci untuk dapat keluar dari jebakan generasi sandwich.
- Masalah skala prioritas
Ada kalanya generasi sandwich memiliki keuangan yang terbatas namun dihadapkan pada beberapa pilihan yang harus dipenuhi terlebih dahulu seperti: biaya kesehatan orang tua, dana pendidikan anak, atau dana untuk membeli rumah. Hal ini membuat generasi sandwich harus pandai mengatur skala prioritas tidak hanya terkait keuangan namun juga terkait ketersediaan waktu, misalnya ketika harus memilih antara menjaga orang tua atau merawat anak.
- Masalah psikologis
Beban yang dimiliki generasi sandwich dapat menimbulkan masalah piskologis seperti perasaan cemas dan sedih. Agar merasa lebih tenang dan aman, untuk itu diperlukan perencanaan keuangan yang dilakukan sejak dini sehingga dengan bekal keuangan yang cukup dapat terhindar dari jebakan generasi sandwich.
Salah satu beban yang difikirkan oleh generasi sandwich adalah kebutuhan akan rumah pribadi. Rumah merupakan kebutuhan dasar dari generasi sandwich karena suatu saat nanti mereka akan berkeluarga dan membutuhkan rumah. Untuk itu, rumah menjadi salah satu prioritas kaum generasi sandwich. Namun, saat ini harga lahan dan juga rumah semakin lama semakin tinggi berbanding terbalik dengan pendapatan dan kebutuhan sehari-hari. Generasi sandwich juga harus memperhatikan keuangan keluarga dan membiayainya. Bagi generasi sandwich khususnya masyarakat berpenghasilan rendah akan sangat sulit untuk mewujudkannya. Pada akhirnya backlog perumahan negara akan semakin tinggi.
Hal itu terlihat dari data yang ditemukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (2020), bahwa tingginya angka kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan (backlog) saat ini telah mencapai 12,75 juta unit. Tak berhenti sampai di sana, untuk tinggal di tempat huni yang layak dan nyaman pun masih terasa sukar bagi segelintir orang, terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Bagi generasi sandwich menabung dan membeli secara kredit menjadi jalan pintas utama untuk dapat mewujudkan impian mereka mendapatkan rumah.
Program Pemerintah Dalam Penyediaan Kebutuhan Perumahan
Peningkatan kualitas hidup masyarakat sendiri masuk ke dalam target dari Sustainable Development Goals (SDG’s) dengan tujuan dan sasaran nomor sebelas yaitu sustainable cities and communities (PUPR, 2020). Indikatornya adalah tersedianya akses rumah yang layak huni, ketahanan konstruksi bangunan, kemudahan akses air minum, sanitasi serta luasan perkapita. Salah satu program tersebut adalah Program Penyediaan Satu Juta Rumah yang merupakan program pemerintah untuk mendorong berbagai stakeholder penyediaan perumahan yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengembang, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat agar terwujud percepatan penyediaan rumah, utamanya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Melalui program ini diharapkan dapat terbangun satu juta rumah setiap tahunnya. Strategi implementasi dari program satu juta rumah, yaitu:
- Memberikan bantuan penyediaan perumahan berupa Rusunawa, Rusus, Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Swadaya (BSPS) dan PSU;
- Memberikan subsidi pembiayaan perumahan berupa KPR FLPP, subsidi selisih bunga (SSB), dan subsidi bantuan uang muka (SBUM);
- Memberikan kemudahan perizinan pembangunan perumahan dan pembinaan kepada pemerintan provinsi dan pemerintah kabupaten/kota (PP Nomor 64 Tahun 2016 tentang Pembangunan Perumahan MBR).
Kegiataan Penyediaan Perumahan Oleh Pemerintah
- Pembangunan Rumah Susun, rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan, terutama untuk tempat hunian. Penerima bantuan rumah susun antara lain MBR, Pekerja Industri, PNS, Nelayan, Mahasiswa, Santri
- Pembangunan Rumah Khusus, rumah khusus adalah rumah tapak/panggung tipe 28 dan 36 yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus. Penerima bantuan rumah khusus antara lain Petugas dan Masyarakat Perbatasan Negara, Nelayan, Korban Bencana, Masyarakat terdampak Pembangunan, Korban Konflik Sosial, Masyarakat Daerah Tertinggal, Terpencil dan Pulau Terluar
- Bantuan Rumah Swadaya, rumah swadaya adalah rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat. Penerima bantuan rumah swadaya adalah keluarga MBR yang memiliki dan tinggal di rumah sendiri namun tidak layak huni atau belum punya rumah namun memiliki tanah sendiri. Bantuan yang diberikan berupa uang dan bahan bangunan dengan skema Peningkatan Kualitas Rumah Tidak Layak Huni dan Pembangunan Baru Rumah Tidak Layak Huni melalui pemberdayaan masyarakat
- Bantuan PSU untuk Perumahan MBR, bantuan penyediaan fasilitas dasar, pendukung, dan kelengkapan penunjang pada perumahan yang diperuntukkan bagi MBR. Jenis bantuan PSU meliputi jalan lingkungan dan TPS3R. Penerima bantuan PSU Perumahan adalah perumahan khusus MBR yang relatif baru.
Realisasi Bantuan Pemerintah Untuk Kebutuhan Hunian Layak Bagi MBR
Beberapa fasilitas kemudahan dan bantuan pembiayaan perumahan yang diberikan oleh Kementerian PUPR antara lain Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), dan Pembiayaan Tapera. Besar dana yang dialokasikan oleh Kementerian PUPR pada tahun 2022 yakni melalui FLPP sebesar Rp 23 triliun untuk 200.000 unit rumah dan BP2BT sebesar Rp 888,46 miliar untuk 22.586 unit rumah.
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna mengatakan, target bantuan pembiayaan perumahan tahun 2022 meliputi KPR FLPP sebanyak 200.000 Unit, Subsidi Selisih Bunga (SSB) sebanyak 769.903 Unit, Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) sebanyak 200.000 Unit, Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) sebanyak 22.582 Unit dan Tapera sebanyak 109.000 Unit.
Program FLPP tahun 2023 akan didampingi dengan program Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) dengan jumlah sama 220.000 unit sebesar Rp0,89 triliun dan program Subsidi Selisih Bunga (SSB) sebanyak 754.004 unit senilai Rp3,46 triliun. Selain tambahan kuota penerima bantuan pembiayaan rumah, pada 2023 juga akan disalurkan program bantuan subsidi Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Nilainya mencapai Rp4,64 triliun dari dana masyarakat untuk 54.924 unit. Total target penyaluran bantuan subsidi perumahan 2023 sebanyak 274.924 unit senilai Rp34,17 triliun bersumber dari APBN sebesar Rp29,53 triliun dan dana masyarakat Rp 4,64 triliun.
Program bantuan pembiayaan rumah dari Kementerian PUPR ini diharapkan mampu meningkatkan akses dan keterjangkauan pembiayaan perumahan yang layak huni. Khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap. Upaya mengatasi kekurangan perumahan (backlog), di mana pada tahun 2021 mencapai sebesar 12,7 juta dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun 640 ribu.
Kendala Pemerintah Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Perumahan Untuk MBR
- Terbatasnya lahan yang terjangkau (murah), upaya yang dilakukan adalah dengan (1) Pendataan dan verifikasi lahan potensial, eks. Pemerintah dan pemda, tanah wakaf; (2) Land Banking; (3) Penyediaan lahan untuk perumahan terjangkau di lokasi strategis/TOD/Sinergi BUMN
- Mahalnya bahan bangunan perumahan MBR, upaya yang dilakukan adalah (1) Riset dan litbang mengenai penggunaan teknologi baru (Precast, RISHA, dan RUSPIN); dan (2) Pengembangan teknologi material alternatif
- Penerapan regulasi yang belum efektif, Dengan adanya fenomena generasi sandwich. penerapan standar akan rumah layak huni dan bangunan layak fungsi juga harus menjadi perhatian. Tidak hanya menjadi sebuah regulasi tapi bagaimana regulasi tersebut dapat diterapkan untuk generasi sandwich yang berpenghasilan rendah dan tinggal bersama-sama dengan keluarga (anak, orang tua/mertua, adik atau tanggungan lainnya). Hal ini tentu dapat menjadi solusi rumah sehat untuk para generasi sandwich dan keluarganya serta untuk mengantisipasi kawasan kumuh.
- Terbatasnya kemampuan pendanaan pemerintah, upaya yang dilakukan adalah dengan (1) Skema pembiayaan kreatif (Kredit Mikro, BP2T, Tapera), (2) KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha), (2) Inovasi Program Penyediaan Perumahan yakni P2BK
Tips Perencanaan Keuangan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Rumah Bagi Generasi Sandwich
- Kelola keuangan dengan baik. Mengelola keuangan yang baik dapat dimulai dengan melakukan pencatatan secara teratur setiap pengeluaran dan pemasukan di setiap bulannya, hal ini berguna agar Sobat dapat menentukan skala prioritas utama dalam setiap pengeluaran rumah tangga yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
- Kelola aset dan lakukan investasi. Inflasi merupakan salah satu yang harus kita lawan untuk menjaga agar nilai uang dan kekayaan kita tetap terjaga, sehingga diperlukan upaya-upaya tertentu melalui pengelolaan aset dan berinvestasi. Kepemilikan berbagai aset tentunya merupakan suatu berkah tersendiri tetapi jika tidak dikelola dan dirawat dengan baik maka tentunya akan mengakibatkan kerusakan yang biayanya tidak murah. Selain itu, mulailah berinvestasi karena apapun bentuknya, setiap investasi yang dilakukan berpotensi memberikan imbal hasil di masa depan sepanjang berinvestasi pada produk yang benar.
- Siapkan asuransi dan dana darurat. Dana darurat dapat menjadi dana cadangan untuk menghadapi situasi darurat seperti kehilangan pekerjaan yang mengakibatkan kita tidak memiliki pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, asuransi dapat bermanfaat untuk mengamankan dari risiko finansial yang timbul baik karena masalah kesehatan atau mengalami kecelakaan. Dalam hal ini, generasi sandwich merupakan tulang punggung keluarga, penting sekali untuk mempertimbangkan memiliki asuransi jiwa sehingga dapat menjaga kesinambungan penghasilan melalui manfaat asuransi dikemudian hari jika terjadi sesuatu pada sang pencari nafkah.
- Bijak dalam berutang. Penting sekali untuk menghindari kebiasaan menumpuk utang atau gali lubang tutup lubang agar tidak mewariskan utang pada generasi selanjutnya. Bijaklah dalam berutang untuk sesuatu hal yang sifatnya produktif dan bukan untuk konsumtif. Selektif dalam memilih utang berdasarkan skala prioritas yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan finansial, jangan sampai memaksakan utang tanpa perhitungan yang matang karena akan berakibat membebani penghasilan.
Penutup
Pemerintah telah berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan perumahan bagi kaum MBR khususnya untuk generasi sandwich. Namun faktanya, masih banyak generasi sandwich yang masih belum bisa untuk membeli rumah KPR. Hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah, agar kedepannya generasi sandwich dapat mempunyai rumahnya sendiri sehingga di hari tuanya nanti mereka tidak akan membebani generasi selanjutnya karena sudah memiliki rumah dan tabungan sendiri. Selain itu, bagi generasi sandwich, dibutuhkan manajemen keuangan yang baik sehingga dapat mewujudkan impian untuk membeli rumah. Butuh komitmen tinggi dan kerja sama yang baik untuk dapat mewujudkan program pemenuhan kebutuhan rumah untuk generasi sandwich khususnya MBR.
REFERENSI:
- Saktika, Gadis. (2022). Rintangan Terjal Generasi Sandwich Untuk Wujudkan Rumah Yang Layak dalam https://www.99.co/blog/indonesia/rintangan-terjal-generasi-sandwich-punya-rumah-yang-layak/ Diakses pada 19 Oktober 2022.
- Jangan Jadi Generasi Sandwich. (2021). https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/40727 Diakses pada 19 OKtober 2022.
- Ruhulessin, Masya Famely. (2022). Kementerian PUPR Berikan Subsidi bagi 22.586 Unit Rumah dalam https://www.kompas.com/properti/read/2022/08/01/073318821/tahun-2022-kementerian-pupr-berikan-subsidi-bagi-22586-unit-rumah Diakses pada 19 Oktober 2022.
- Kurniawan, Rendika Ferri. (2022). Siap-siap! Kuota Bantuan Subsidi Perumahan Akan Ditambah pada 2023 https://www.kompas.com/tren/read/2022/09/06/120000165/siap-siap-kuota-bantuan-subsidi-perumahan-akan-ditambah-pada-2023?page=all. Diakses pada 19 oKtober 2022.
- Hingga Semester I Tahun 2022, Kementerian PUPR Salurkan FLPP Untuk 99.557 Unit Rumah dalam https://pu.go.id/berita/hingga-semester-i-tahun-2022-kementerian-pupr-salurkan-flpp-untuk-99557-unit-rumah Diakses pada 19 Oktober 2022.
- Program dan Upaya Pemerintah dalam Penyediaan Perumahan dalam https://perkim.id/tantangan-penyediaan-perumahan/program-dan-upaya-pemerintah-dalam-penyediaan-perumahan/ Diakses pada 19 Oktober 2022.
- Rozalinna, Genta Mahardhika dan Violetta Lovenika Nur Anwar. (2021). Rusunawa dan Sandwich Generation: Resiliensi Masa Pandemi di Ruang Perkotaan. Brawijaya Journal of Social Science. Vol. 1, No.1.
generasi sandwich itu apa ya kak
bisa di cek postingan sebelumnya ka https://lokalarasindonesia.id/2022/10/21/adaptasi-tata-ruang-dalam-menghadapi-ledakan-generasi-sandwich/